Sejarah Selimut: Dari Kulit Hewan Jadi Perlengkapan Tidur Serba Guna
Selimut mungkin terlihat seperti salah satu perlengkapan tidur yang sederhana. Namun, sejarah selimut justru mengatakan sebaliknya.
Selimut memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak. Jauh sebelum selimut dibuat dari berbagai bahan yang lembut dan halus, manusia lebih dahulu memanfaatkan segala sesuatu yang ada di alam untuk melindungi tubuh dari dingin.
Seiring perkembangan zaman, selimut tidak hanya berfungsi sebagai penghangat tubuh, tetapi juga memiliki nilai budaya, status sosial, hingga menjadi bagian dari dekorasi rumah.
Lalu, seperti apa sejarah selimut dari masa ke masa?
Sudah Ada Sejak Zaman Purba Dan Bahan Kulit

Pada awalnya, manusia zaman dulu yang tinggal di gua menggunakan kulit hewan besar untuk menghangatkan tubuh saat malam hari dan musim dingin.
Fungsi kulit hewan besar mulanya digunakan sebagai karpet untuk alas tanah. Namun, saat malam tiba, udara menjadi lebih dingin dari biasanya.
Alhasil, mereka menggunakan kulit hewan besar tersebut dengan bergelung di dalamnya dan menjadikannya seperti selimut.
Saat itu kulit hewan tidak hanya digunakan ketika tidur, tetapi juga untuk menutupi tubuh saat beraktivitas di tengah udara dingin.
Kemudian pada sekitar 3500 SM, masyarakat Mesir kuno mulai mengenal selimut tenun atau selimut yang terbuat dari tenun.
Di masa tersebut, selimut memiliki harga yang relatif tinggi sehingga kepemilikannya menjadi salah satu penanda kekayaan dan status sosial seseorang.
Hal ini tentu menjadi bagian dari sejarah selimut yang sangat menarik.
Asal-Usul Kata “Blanket”
Blanket yang merupakan bahasa Inggris dari selimut ternyata memiliki jejak sejarah tersendiri. Istilah blanket pada awalnya merujuk pada jenis kain wol tebal yang tidak diwarnai.
Dilansir dari Wikipedia, teori populer yang mengaitkan istilah ini dengan Thomas Blanket atau Blanquette, seorang penenun asal Flandria yang tinggal di Bristol, Inggris, pada abad ke-14.
Namun, istilah blanket diduga telah digunakan lebih awal sebagai serapan dari bahasa Prancis Kuno untuk menyebut jenis kain tersebut.
Kata ini berkaitan dengan blanc yang berarti “putih”, merujuk pada warna kain wol yang tidak diwarnai.
Seiring waktu, penggunaan kata blanket berkembang dari yang semula merujuk pada jenis kain menjadi istilah untuk kain yang digunakan sebagai penutup atau penghangat tubuh saat tidur.
Menariknya, istilah blanket pada awalnya lebih berkaitan dengan jenis dan karakteristik kain daripada sekadar benda untuk tidur.
Baca juga: Asal Mula Sprei: Menelusuri Sejarah Sprei dari Mesir Kuno Hingga Saat – My Love Bedcover
Kambala: Salah Satu Bentuk Selimut Kuno

Selain penggunaan kulit hewan, masyarakat di India kuno juga mengenal kambala, yaitu kain atau selimut berbahan wol.
Dalam bahasa Sanskerta, kambala berarti atau merujuk pada selimut atau kain wol. Istilah ini juga ditemukan dalam literatur India kuno seperti Atharvaveda.
Catatan mengenai kambala juga berkaitan dengan perjalanan Xuanzang, seorang cendekiawan dan pengelana dari Tiongkok yang melakukan perjalanan ke India pada abad ke-7.
Kambala disebut sebagai material berbahan bulu domba atau kambing yang digunakan sebagai pakaian atau penutup tubuh.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kain berbahan serat hewan sebagai penghangat tubuh telah berkembang di berbagai wilayah sejak masa lampau
Perkembangan Bahan Selimut
Sejarah selimut membuktikan bahwa awal mulanya, selimut terbuat dari kulit hewan dan wol, kini bahan selimut terus berkembang mengikuti teknologi tekstil dan kebutuhan masyarakat.
Bahkan, Anda juga bisa menemukan selimut dengan berbagai karakteristik, mulai dari yang tebal dan hangat hingga ringan dengan tekstur yang lembut.
Beberapa bahan selimut yang populer dan sering digunakan, yaitu:
1. Wol

Wol merupakan salah satu bahan yang secara historis banyak digunakan untuk membuat selimut.
Seratnya mampu membantu mempertahankan kehangatan sehingga cocok digunakan sebagai penghangat badan di lingkungan dengan suhu untuk tidur yang rendah.
2. Flanel

Tak hanya wol, flanel juga dikenal memiliki tekstur yang lembut dan terasa nyaman di kulit.
Karakteristik tersebut membuatnya sering digunakan untuk berbagai perlengkapan tidur, termasuk selimut tidur.
3. Polyester

Selain wol dan flanel, polyester juga menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan pada selimut modern.
Material ini dapat dibuat dengan berbagai karakteristik dan tekstur, sehingga selimut polyester tersedia dalam pilihan yang ringan, lembut, hingga lebih tebal.
Perkembangan bahan tersebut membuat pilihan selimut tidur yang bagus kini tidak hanya ditentukan dari seberapa tebal selimutnya.
Bahan, tekstur selimut, berat, dan kebutuhan penggunaan juga perlu dipertimbangkan.
Baca juga: Sejarah Karpet: Perjalanan Panjang dari Karya Seni hingga Fungsi – My Love Bedcover
Perkembangan Fungsi Selimut

Jika dilihat dari sejarah selimut yang awalnya hanya digunakan sebagai penghangat tubuh, kini fungsinya jauh lebih beragam.
Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh budaya dan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.
Perkembangan produksi pada masa Revolusi Industri kemudian membuat selimut semakin mudah diproduksi dan digunakan oleh masyarakat kelas menengah.
Saat ini, fungsi selimut pun semakin luas, seperti:
-
Selimut tidur untuk membantu memberikan rasa hangat saat beristirahat.
-
Selimut santai di rumah yang bisa digunakan saat membaca, menonton, atau bersantai di sofa.
-
Selimut outdoor yang praktis dibawa ketika berkemah atau melakukan aktivitas di luar ruangan.
-
Bagian dari dekorasi, misalnya sebagai throw blanket di sofa atau tempat tidur.
-
Bagian dari budaya dan tradisi, seperti penggunaan selimut dalam pakaian atau ritual tertentu.
Sejarah selimut dan perkembangannya menunjukkan bahwa benda yang satu ini tidak lagi digunakan hanya sebagai perlengkapan tidur.
Karena itu, penting untuk memilih bahan dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan.
Kunjungi Halaman Selimut California By My Love
Temukan Selimut yang Pas Untuk Kebutuhanmu
Sejarah selimut yang panjang membuktikan bahwa benda ini mengalami penambahan fungsi, yang tadinya hanya sebagai penghangat, kini juga bisa menjadi sebagai dekorasi ruangan.
Sejarah selimut ini juga menjadi tanda bahwa setiap barang seiring berjalannya waktu bisa dituntut untuk memiliki lebih dari satu fungsi.
Karena itu, memilih selimut harus sesuai dengan kebutuhan. Semakin fleksibel, simpel, dan praktis selimut, semakin nyaman pula selimut tersebut digunakan dalam berbagai situasi.
Salah satu selimut yang bisa Anda pilih adalah selimut California by My Love.
Dibuat dari bahan premium polyester yang halus dan lembut, Selimut California memiliki ketebalan yang pas sehingga tidak terasa gerah saat digunakan.
Desainnya yang simpel dan praktis juga membuat selimut ini travel-friendly, sehingga mudah dibawa dan digunakan saat bepergian.
Dengan pilihan motif yang beragam, California by My Love memberikan solusi sempurna untuk menciptakan dekorasi ruangan yang estetik dan nyaman.
Cek koleksi selengkapnya di website resmi My Love Bedcover yang jual selimut berkualitas dengan garansi produk 100% ori dikirim langsung dari lokasi produksi.
Baca Juga
5 Cara Mengukur Kasur Tanpa Meteran yang Mudah Dilakukan
Tak punya meteran di rumah? Simak 5 cara mengukur kasur tanpa meteran dengan mudah, mulai dari jengkal tangan hingga aplikasi HP sebelum beli sprei.
9 Selimut Termahal di Dunia, Harganya Bikin Geleng-geleng Kepala!
Intip 9 selimut termahal di dunia dengan material premium dari brand luxury, ada yang sampai Rp400 juta!
Tidur Sering Terbangun Tengah Malam? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Tidur sering terbangun ? Kenali penyebabnya dan lakukan kebiasaan untuk tidur lebih nyenyak, mulai dari mengurangi screen time hingga memilih sprei nyaman.

